Minggu, 30 November 2008

Ramadhan

Ramadhan, beberapa saat yang lalu telah meninggalkan kita. Dengan berpisahnya kita dengan bulan Ramadhan, kita berharap semoga amal-amal kita pada bulan-bulan lain diterima di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana yang sangat kita harapkan di bulan mulia tersebut.

Terntunya kita tidak ingin kehilangan begitu saja sesuatu yang nilainya sangat utama dan mulia di sisi Allah Ta’ala bukan ? Ketahuilah, kita tidak boleh berkecil hati dengan berlalunya bulan mulia tersebut. Sebagai hamba Allah Ta’ala yang taat, kita tidak henti-hentinya berupaya untuk tetap beriman akan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita harus selalu berharap akan kebaikan-kebaikan Allah Ta’ala yang dilimpahkan atas kita.


Ternyata Allah Ta’ala melalui utusanNya Shalallahu ‘alaihi wassalam, telah menjanjikan bulan lain yang tidak kalah utamanya dibanding dengan keutamaan bulan Ramadhan. Mengapa demikian ?


Tidak lain, karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda (yang artinya): “Dua bulan untuk berhari raya tidak berkurang keduanya, Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR Muslim 1089).

Adapun keutamaan bulan Dzulhijjah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, teladan kita yang mulia telah bersabda (yang artinya): “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari (dari bulan Dzulhijjah). Mereka bertanya : “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatupun.” (HR Jama’ah kecuali Muslim dan an Nasa’i).

Dikarenakan adanya keutamaan yang besar dari beberapa hari diantara bulan Dzulhijjah tersebut, maka sangat utama pula kita mengisinya dengan amal sholih sebagai kelanjutan tabungan pahala amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu.

Diantara amal-amal yang perlu kita lakukan, cukuplah sekiranya hal itu membuat kita dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, antara lain adalah :

1. Banyak berdzikir pada hari-hari tersebut

Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya): “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan.” (Al Hajj 28).

Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah, demikian pula para mufassir lainnya diantaranya Ibnu Katsir rahimahullah. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya): “Tidak ada hari yang amal sholih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari yang sepuluh ini.” (HR Bukhari).

Ishaq dari kalangan Tabi’ut Tabi’in, meriwayatkan dari salah seorang gurunya bahwa pada hari-hari tersebut dituntunkan mengucapkan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallahu wallahu akbaru, Allahu akbar walillahil hamdu.”

Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang benar selain Allah, Allahu Maha Besar, Allah Maha Besar dan untuk Allah-lah segala pujian. (HR Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas’ud 2/168, Shohih, Al Albani dalam Tamamul Minnah cet. Darur Rayyah hal 356).

Para shahabat radliyallahu ‘anhum pun diantaranya Ibnu Umar dan Abu Hurairah biasa keluar menuju pasar pada sepuluh hari tersebut sambil membaca takbir.

Sa’id Ibn Zubair radliyallahu ‘anhu kalau sudah tiba sepuluh hari tersebut, ia benar-benar giat beramal sehingga hampir-hampir ia tidak kuasa untuk melakukannya.

2. Berpuasa pada hari tersebut, khususnya pada hari Arafah

Telah dituntunkan oleh teladan kita yang mulia, Rasullah Shalallahu ‘alaihi wassalam agar kita berpuasa pada hari Arafah, karena Allah Ta’ala melalui beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam telah menjanjikan (yang artinya): “Berpuasa pada hari Arafah (karena mengharap pahala dari Allah) melebur dosa-dosa selama dua tahun, tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya.” (HR Muslim, Ahmad dan Abu Dawud dari Qatadah).

Kita mengetahui pula bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, karena hal ini khusus dipilih Allah Ta’ala untuk diriNya sendiri, sebagimana firman-Nya dalam hadits qudsi (yang artinya): “Semua amalan manusia untuk dirinya kecuali puasa, maka dia adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.” (HR Muslim, Ahmad dan An Nasa’i).

Dalam riwayat lain (yang artinya): “Sungguh dia telah meninggalkan makanan dan minumannya, serta nafsu syahwatnya demi untuk-Ku. Puasa itu adalah untuk-Ku. Akulah yang akan membalasnya, sedang kebajikan akan mendapatkan balasan sepuluh kali lipat.” (HR Bukhari dan Abu Dawud).

Dan simaklah janji Allah Ta’ala yang lain melalui RasulNya Shalallahu ‘alaihi wassalam dari Abi Sa’id Al Khudri radiyallahu ‘anhu (yang artinya): “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.” (HR Jama’ah kecuali Abu Dawud).

3. Banyak bertaubat dan menjauhi maksiat

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang gembira atas taubat seorang hambaNya, melebihi dari sesuatu apapun, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam (yang artinya): “Dari Barra’ bin ‘Adzib radiyallahu ‘anhu ia berkata, bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “Bagaimana pendapatmu dengan gembiranya seorang laki-laki yang tunggangannya lepas kendali darinya menuju tanah gersang dan tandus, padahal tidak ada padanya makanan dan minuman, sedang makanan dan minumannya di atas tunggangannya, maka dia mencarinya sampai melelahkannya, lalu tunggangannya lewat di sekitar pohon, maka dia mengikat tali kekangnya dan dia mendapatkan kembali tunggangannya telah terikat.” Kami berkata : “Sungguh (sangat gembira) wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda : “Adapun demi Allah, Allah sungguh sangat gembira dengan taubat seorang hambaNya daripada laki-laki tersebut dengan tunggangannya.” (HR Muslim dalam kitab At Taubah).

Demikian pula Allah sangat cemburu manakala hambaNya berbuat maksiat. Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya Allah itu cemburu. Dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba mendatangi apa yang diharamkan Allah terhadapnya.” (Muttafaqun ‘alahi – Hadits shahih Bukhari Muslim).

4. Mengisi dan memperbanyak amalan sunnah setelah apa-apa yang diwajibkan

Pada akhirnya, cobalah simak janji Allah yang disabdakan melalui RasulNya Shalallahu ‘alaihi wassalam dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu (yang artinya): “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : Barangsiapa yang memusuhi waliku (orang yang Allah cintai) maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hambaKu mendekatkan dirinya kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang Aku wajibkan/fardhukan atasnya. Dan senantiasa hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, jadilah Aku sebagai pendengaranNya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk bekerja keras, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta kepadaKu, pasti Aku memberinya dan jika ia meminta perlindungan kepadaKu, pasti Aku melindunginya.” (HR Bukhari).

Itulah beberapa janji Allah dan RasulNya Shalallahu ‘alaihi wassalam. Karena itu, mari kita isi hari-hari dari bulan Dzulhijjah ini dengan amalan ibadah yang membuat kita dicintai Allah Ta’ala. Wallahu Ta’ala A’lam


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons